|
Taman Lalu Lintas kota Bandung, yang berlokasi di Jalan Sumatra, sekitar tahun 1898 hanya berupa tanah berpaya, yang ditumbuhi oleh rumpun bambu tidak beraturan. Melihat bahwa lokasi tanah tersebut terletak di lingkungan kompleks militer, semula ada rencana untuk menjadikannya sebagai Lapang Upacara Militer. Untuk mengeringkan tahan berpaya tersebut, dibuat saluran pengering yang melintas di tengah2nya.
Sekitar tahun 1915, lapangan tersebut benar-benar digunakan sebagai tempat upacara dan latihan olahraga bagi militer. Tetapi seiring dengan digunakannya lapangan tersebut, mulai muncul permasalahan, diantaranya karena lapangan tersebut gundul tidak berpohon, maka angin bertiup dengan sangat kencang pada saat pergantian musim. Sedangkan pada saat musim kemarau, panasnya sangat menyengat.
Untuk mengatasi kendala di atas, maka di sekeliling lapangan tersebut ditanami pohon Kenari dan pohon Sepatu Dewa. Lalu secara bertahap di dalam lapangan ini ditanami berbagai jenis pohon lindung, tumbuhan hias, dan
bunga-bungaan. Fungsi lapangan ini pun dirubah menjadi sebuah taman yang indah dan representatif, mewakili gaya taman tropis di kota Bandung. Pepohonan yang sampai sekarang masih hidup di Taman Lalu Lintas ini saat ini umurnya sudah mencapai puluhan tahun dan merupakan kekayaan alam yang tak ternilai harganya.
Seiring dengan jalannya waktu, fungsi lapangan tersebut berubah menjadi semacam taman rekreasi, khususnya bagi
anak-anak. Jadi taman ini memiliki fungsi ganda, selain sebagai tempat pendidikan, juga sebagai tempat rekreasi, dimana fungsi keduanya saling menunjang. Fungsi pendidikan di Taman Lalu Lintas ini difokuskan pada pendidikan mengenai alam dan botanika
(tumbuh-tumbuhan). Jadi anak-anak sudah diajarkan sejak kecil untuk menghargai dan mencintai alam sekitarnya. Taman Lalu Lintas ini diresmikan dan dibuka untuk umum pada tanggal 1 Maret 1958.
Sayang seribu sayang, sejak tahun 1980, jumlah pengunjung Taman Lalu Lintas ini semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh lokasinya yang agak berjauhan dengan pusat keramaian kota. Atraksi hiburan yang disajikan pun menjadi ketinggalan dibandingkan dengan obyek hiburan lainnya. Meskipun demikian, kehadiran Taman Lalu Lintas masih relevan dan dibutuhkan, karena minimnya sarana rekreasi yang relatif murah di kota Bandung ini jarang ditemui.
|